BEKASI – Petugas keamanan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat akan patroli 24 jam untuk mengantisipasi kebakaran saat kemarau dan fenomena El Nino pada Agustus-September 2026.
Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko, menyatakan pihaknya menyadari tingginya potensi kebakaran lahan di area gunungan sampah ketika puncak musim panas.
“Kami juga udah memperoleh informasi dari BMKG, BNPB, BPBD bahwa yang sangat berisiko memang adalah TPA untuk terjadi kebakaran lahan, termasuk TPST Bantargebang. Nah, makanya kita saat ini sudah mulai melakukan berbagai mitigasi,” kata Agung kepada wartawan di TPST Bantargebang, Bekasi, Selasa (4/7/2026).
Pengawasan secara intensif ini difokuskan untuk menyisir titik-titik rawan kebakaran di seluruh zona pembuangan.
“Yang pertama adalah tentunya kita melakukan pencegahan dulu. Kalau pencegahan berarti kita melakukan setiap harinya kita ada petugas jaga 24 jam yang dia keliling untuk melihat semua zona. Dia harus keliling. Setiap 2 jam, 3 jam sekali mereka keliling,” jelas Agung.
Menurut Agung, deteksi dini titik api merupakan kunci dalam mencegah terjadinya kebakaran di area gunungan sampah. Pasalnya, di balik tumpukan limbah tersebut tersimpan gas metana yang sangat rentan memicu ledakan atau perluasan api jika dibiarkan dalam waktu lama tanpa ada penanganan.
“Karena kuncinya adalah ketika terjadi sesuatu, jadi itu secepat dia mungkin dia tangani, itu akan semakin cepat. Jadi semakin cepat ketahuan, semakin cepat dia bisa lebih mudah dikendalikan. Nah, patroli-patroli ini udah berjalan rutin semuanya,” ujar Agung.
Tidak hanya mengandalkan pantauan dari petugas yang berkeliling, UPST Bantargebang juga menyiagakan armada penyemprot air untuk mendinginkan area gunungan sampah.
Armada ini ditugaskan berkeliling menyemprotkan air untuk menjaga suhu permukaan sampah agar tidak terlalu panas dan berpotensi memicu api.
“Kita juga melakukan penyemprotan keliling di sini dengan menggunakan armada-armada seperti water mist, kita semprotkan juga dengan jarak sampai 100 meter. Kemudian kita juga memiliki alat pemadam kebakaran,” tutur Agung.
Agung mengaku telah belajar dari peristiwa kebakaran yang sempat menimpa TPA lainnya pada Juni 2026.
Karenanya, ia berfokus untuk menjaga kondisi gunungan sampah di Bantargebang tetap aman sembari menyelesaikan proses penerapan penutupan pembuangan sampah terbuka atau open dumping secara bertahap.












