Terhambatnya Penyelamatan Kapten Kapal Dari Perompak

8
foto istri dari kapten Kapal Ashari Samadikun
Share artikel ini

Upaya membebaskan Kapten Ashari Samadikun (33), nahkoda asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang disandera perompak di perairan Somalia, masih menemui berbagai hambatan.

Tidak jelasnya pihak yang bisa diajak bernegosiasi dan berubah-ubahnya nilai uang tebusan membuat proses penyelamatan belum menemukan titik terang.

Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mengatakan, laporan yang diterimanya menunjukkan belum ada kontak resmi maupun perwakilan kelompok penyandera yang dapat dijadikan mitra negosiasi.

“Daripada laporan yang kami terima, tidak jelas contact person atau lembaga yang bertanggung jawab untuk diajak bernegosiasi. Jadi para pihaknya tidak jelas,” ujar Syamsu Rizal di Makassar, dikutip dari TribunTimur, Selasa (28/7/2026).

Selain kebuntuan komunikasi, keberadaan para sandera juga menjadi tantangan lain.

Lokasi penyanderaan disebut terus berubah sehingga menyulitkan proses pelacakan maupun penyusunan langkah penyelamatan.

Menurut Syamsu Rizal, informasi yang diterima terus berubah dari waktu ke waktu.

Pada awalnya kelompok perompak disebut meminta tebusan sebesar dua juta dollar.

Nominal tersebut kemudian meningkat menjadi lima juta dollar dan belakangan disebut mencapai 10 juta dollar.

Ketidakjelasan informasi itu dinilai membuat pemerintah perlu mengambil peran yang lebih besar agar proses pembebasan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, Syamsu Rizal mendesak pemerintah segera membentuk satuan tugas khusus atau task force yang melibatkan TNI, Kementerian Luar Negeri, serta instansi terkait guna menyatukan langkah dalam proses penyelamatan.

“Kita ingin pemerintah hadir dengan membentuk task force supaya informasi mengenai tuntutan tebusan menjadi jelas. Tetapi yang paling penting adalah keselamatan WNI kita,” kata Syamsu Rizal.

Ashari diketahui menjadi salah satu dari 19 awak MT Honour 25 yang disandera perompak Somalia sejak sekitar tiga bulan lalu. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya merupakan warga negara Indonesia.

Dalam rapat bersama TNI dan Kementerian Luar Negeri, Syamsu Rizal juga memperlihatkan video yang dikirim ayah Ashari, Syamsuddin Dg Ngawing. Rekaman itu menunjukkan kondisi para sandera yang memprihatinkan.

Ashari terlihat tetap menjalankan ibadah di tengah penyanderaan. Para awak kapal bahkan harus menyaring air keruh menggunakan botol air mineral sebelum diminum karena keterbatasan air bersih.

Di sisi lain, perusahaan pemilik MT Honour 25 disebut belum memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi tuntutan kelompok perompak.

“Kabar terakhir perusahaan tinggal mengikuti proses karena kemampuannya terbatas,” jelas Syamsu Rizal.

“Yang belum jelas adalah berapa sebenarnya nilai tebusan yang diminta, apakah benar sampai 10 juta dollar atau tidak,” lanjutnya.

Sementara itu, ayah Ashari, Syamsuddin Dg Ngawing, mengaku bahwa pihaknya belum melihat perkembangan berarti dalam proses pembebasan putranya.  Menurut dia, baik perusahaan maupun pemerintah belum menunjukkan hasil nyata dalam upaya negosiasi.

Persediaan logistik di atas kapal juga terus menipis. Bahkan, komunikasi dengan Ashari semakin sulit dilakukan karena para sandera berada di bawah pengawasan ketat kelompok bersenjata.

“Itu kondisi sekarang, sama sekali pihak perusahaan tidak ada yang peduli terhadap orang-orang yang ada di atas kapal,” ujar Syamsuddin.

Print Friendly, PDF & Email

Share artikel ini