ASN dan Non ASN Pekanbaru Jadi Motor Pengelolaan Sampah, Potensi Reduksi Capai 10 Ton per Hari

6
Share artikel ini

REKAMJEJAKPOST.COM PEKANBARU – Pemerintah Kota Pekanbaru mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjadi motor penggerak perubahan dalam pengelolaan sampah berbasis sumber melalui Surat Edaran Nomor P.500.9.14.2/DLHK/1/2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Rumah. Kebijakan ini dinilai berpotensi mengurangi timbulan sampah hingga puluhan ton per hari jika dijalankan secara konsisten.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra, menjelaskan bahwa perhitungan potensi pengurangan sampah mengacu pada rancangan induk persampahan kota. Rata-rata timbulan sampah per orang diperkirakan sebesar 0,7 kilogram per hari.

Dengan jumlah ASN di Pekanbaru mencapai 16.161 orang, potensi timbulan sampah dari kelompok ini mencapai lebih dari 10 ton per hari. Namun, melalui pemilahan dan pengolahan mandiri, sebagian besar sampah tersebut dapat ditekan sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Kalau dari organik bisa sekitar 5 ton per hari, dan dari an organik sekitar 5 ton juga. Jadi totalnya bisa 10 ton per hari. Kalau partisipasi meningkat, tentu angkanya bisa lebih besar,” kata Reza kepada Goriau, Senin (6/4/2026).

Ia merinci, sampah organik seperti sisa dapur dan taman memiliki porsi signifikan dalam komposisi sampah rumah tangga, yakni lebih dari 50 persen. Sampah jenis ini dinilai paling potensial untuk diolah langsung di sumber melalui metode sederhana seperti komposting atau lubang biopori.

Sementara itu, sampah an organik seperti plastik, kertas, dan kardus dapat disalurkan ke bank sampah atau *waste station* untuk didaur ulang. Berdasarkan estimasi DLHK, potensi pengurangan sampah melalui pengolahan organik mencapai sekitar 5,03 ton per hari, sedangkan dari anorganik sekitar 4,98 ton per hari.

Jika digabungkan, total potensi reduksi sampah dari ASN saja mendekati 10 ton per hari. Angka ini dinilai cukup signifikan jika dibandingkan dengan total timbulan sampah Kota Pekanbaru yang mencapai sekitar 1.300 ton per hari.

Reza menekankan, pendekatan yang diterapkan tidak semata-mata bersifat teknis, melainkan bertumpu pada perubahan perilaku masyarakat yang dimulai dari ASN sebagai teladan.

“Kita tidak bisa langsung meniru secara utuh dari daerah lain, tapi semangatnya yang kita ambil. ASN harus jadi role model, menunjukkan bahwa ini bisa dimulai dari rumah,” ujarnya.

Menurut dia, pengolahan sampah organik tidak harus dilakukan dengan fasilitas besar. ASN maupun masyarakat cukup memanfaatkan wadah sederhana di rumah untuk mengolah sisa makanan menjadi kompos.

“Kalau ada lahan bisa pakai biopori, tapi kalau tidak ada, cukup dengan metode sederhana yaitu komposter menggunakan ember cat bekas. Yang penting sampah organik selesai di sumbernya, tidak semuanya dibuang ke TPS,” kata Reza.

Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan sampah konvensional yang selama ini menjadi beban utama TPA.

“Kalau separuh saja sampah rumah tangga bisa selesai di rumah, itu sudah sangat membantu mengurangi beban kota,” ucapnya.

Dalam implementasinya, DLHK akan menjalankan skema edukasi bertahap. Pembinaan tahap awal difokuskan kepada kepala organisasi perangkat daerah (OPD), yang kemudian bertugas mengedukasi pegawai di instansi masing-masing.

Adapun masyarakat akan disentuh melalui perangkat wilayah, mulai dari lurah hingga rukun tetangga dan rukun warga.

“Kita mulai dari kepala OPD. Mereka yang menggerakkan di kantor masing-masing. ASN ini kita dorong jadi motor penggerak di lingkungan keluarga dan masyarakat,” ujar Reza.

Ia optimistis, jika ASN telah terbiasa memilah dan mengolah sampah, perubahan akan meluas secara alami di tengah masyarakat.

“Minimal dari keluarga dulu. Kalau satu rumah berhasil, itu sudah satu titik perubahan,” katanya.

Print Friendly, PDF & Email

Share artikel ini