REKAMJEJAKPOST.COM – Harga minyak dunia kembali menguat setelah sempat mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2020. Kenaikan ini terjadi di tengah masih terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mengutip Bloomberg, Kamis (9/4/2026), harga minyak Brent naik ke kisaran 97 dollar AS per barel setelah sebelumnya anjlok hingga 13 persen pada perdagangan Rabu. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga diperdagangkan mendekati level 97 dollar AS per barel.
Namun, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, membantah klaim tersebut dan mengatakan mulai ada tanda-tanda jalur tersebut kembali dibuka. Penutupan Selat Hormuz Mengancam Ketahanan Pangan Global
Hingga kini, kondisi Selat Hormuz saat ini masih belum sepenuhnya normal. Lalu lintas kapal dilaporkan mulai pulih secara terbatas, meski risiko keamanan tetap tinggi di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis distribusi energi dunia. Dengan lebar sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya, jalur ini menjadi penghubung utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk ke berbagai negara. Hal ini menjelaskan kenapa Selat Hormuz penting, karena sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global melintasi perairan tersebut.
Gangguan di jalur ini disebut sebagai salah satu disrupsi terbesar dalam sejarah pasar minyak, terutama sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran meningkat pada akhir Februari lalu. JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi Amerika Serikat ke Islamabad untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Iran pada Sabtu waktu setempat.
Senior Vice President Trading BOK Financial Securities Inc., Dennis Kissler, menilai ketidakpastian masih akan berlanjut dalam waktu dekat. “Situasi ini belum selesai. Kita perlu melihat Selat Hormuz benar-benar terbuka tanpa hambatan sebelum harga minyak WTI bisa turun ke kisaran 80 dollar AS per barel.
Dan saya tidak melihat itu terjadi dalam dua minggu ke depan,” ujar dia. Di sisi lain, konflik di kawasan masih berlangsung secara sporadis. Serangan Israel di Lebanon serta aksi balasan Iran ke negara-negara Teluk memperburuk situasi. Bahkan, terdapat perbedaan pandangan antara Teheran dan pihak Amerika Serikat serta Israel terkait cakupan gencatan senjata, khususnya apakah mencakup wilayah Lebanon.
Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf menyatakan tiga poin dalam proposal gencatan senjata telah dilanggar, sebagaimana disampaikan melalui unggahan di platform X.












